Usai Sritex tutup, pemerintah menyiapkan BUMN khusus bidang tekstil
Usai Sritex Tutup, Pemerintah Siapkan BUMN Khusus Bidang Tekstil
Jakarta – Pemerintah tengah mengkaji pembentukan badan usaha milik negara (BUMN) khusus di bidang tekstil menyusul penutupan pabrik tekstil PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex). Langkah ini disebut sebagai upaya menjaga kelangsungan industri tekstil nasional pasca kepergian salah satu pemain terbesar di sektor tersebut.
Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Adi, menyatakan bahwa Kementerian BUMN tengah melakukan studi tentang pembentukan BUMN baru di bidang tekstil. “Masih dalam tahap awal, tetapi sudah kita dilibatkan untuk serius mempertimbangkan hal ini. Jangan sampai industri tekstil kita kecil dan tidak berdaya,” ungkap Prasetyo Adi, usai pertemuan denganELEMENTS Textiles, perusahaan tekstil global, di Jakarta Rabu pagi.
Prasetyo Adi menambahkan, pembentukan BUMN tekstil ini diharapkan dapat membantu pemerintah mendorong pengembangan ekspor tekstil Indonesia, meningkatkan nilai tambah produk tekstil domestik, serta menciptakan lapangan kerja baru di sektor tersebut. “Kita ingin melihat industri tekstil kita kuat dan kompetitif di pasar global,” ujarnya.
Kunci keberhasilan pembentukan BUMN tekstil, menurutnya, terletak pada strategi yang tepat. Pemerintah akan melibatkan berbagai stakeholders, mulai dari pengusaha tekstil, akademisi, hingga para ahli industri dalam merencanakan pembentukan BUMN ini.
Faktor Penutupan Sritex
Penutupan pabrik milik Sritex, yang merupakan salah satu perusahaan tekstil terkemuka di Indonesia, menimbulkan kekhawatiran bagi stakeholders industri tekstil nasional. Stephanie Sri Handoko, Direktur Utama Sritex menyebutkan beberapa faktor yang mendorong penutupan.
“Faktor utama adalah persaingan global yang semakin ketat dan margin keuntungan yang terus menurun,” kata Stephanie Sri Handoko dalam keterangan pers beberapa waktu lalu.
Kenaikan biaya produksi, fluktuatifnya nilai tukar rupiah, serta lemahnya daya saing produk tekstil Indonesia di pasar global menjadi beberapa tantangan yang dihadapi Sritex.
“Tentu kita menyadari dampak penutupan ini bagi para karyawan dan masyarakat di daerah lokasi pabrik,” ungkap Stephanie Sri Handoko. Tindakan ini diambil setelah upaya berbagai strategi cost cutting dan peningkatan efisiensi tidak memberikan hasil yang memuaskan.
Harapan Publik
Pemerintah diharuskan bertindak cepat untuk menangani situasi ini agar industri tekstil nasional tidak semakin terpuruk. Pembentukan BUMN tekstil diharapkan dapat menjadi solusi strategis untuk menjaga stabilitas di sektor ini.
“Pembentukan BUMN tekstil harus diiringi dengan langkah-langkah konkret untuk meningkatkan daya saing produk tekstil Indonesia, seperti program pelatihan tenaga kerja, pengembangan teknologi, dan optimalisasi infrastruktur,” ujar Ari Kusuma, perwakilan Serikat Pekerja Tekstil Indonesia.
Dengan adanya BUMN di sektor ini, diharapkan industri tekstil Indonesia bisa kembali bangkit, menciptakan lapangan kerja baru, dan meningkatkan ekspor.
Kesimpulan
Penutupan factories milik Sritex menjadi momentum bagi pemerintah untuk memperkuat industri tekstil nasional. Pembentukan BUMN tekstil menjadi solusi yang dikaji secara serius. Harapannya, melalui langkah strategis dan komitmen kuat dari seluruh pihak, industri tekstil Indonesia dapat kembali berdaya saing di pasar global.